Kontemplasi, Observasi dan Koneksi Dari Karya-karya Srihadi Soedarsono

  • Jun 07, 2023

Karya-karya Srihadi merupakan hasil dari kontemplasi mendalam yang dituangkan dalam kanvas. Beliau dikenal sebagai master of colorist karena mampu mengungkapkan subjek kontemplasinya melalui penggunaan warna yang tepat. Pemilihan warna, penempatan, gradasi, tebal dan tipis dalam setiap karyanya menyampaikan kontemplasi secara totalitas. Dua karya belakang ini akan kita bahas!

Pada tahun 1959, Srihadi menjadi dosen di ITB, namun hasrat belajar tetap membara. Pada tahun 1960, beliau mendapatkan beasiswa di The Ohio State University, Amerika Serikat. Saat itu, beliau mendalami teknik abstrak dan mengeksplorasi kedalaman serta intensitas warna. Mengutip dari buku "The Path of Soul" oleh Jean Couteau, halaman 260, mengenai masa di Amerika, "dia semakin kukuh menjadikan warna sebagai sarana pokok dalam menggali esensi rasa itu."

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1962, Srihadi kembali mengangkat figur sebagai tema utamanya. Hal ini dipengaruhi oleh keinginan beliau untuk menggambarkan realitas sekitarnya, di mana pada saat itu banyak rakyat Indonesia masih mengalami kesulitan. Walaupun filosofi berkarya beliau berevolusi seiring berjalannya waktu, beliau tetap mempertahankan gaya khasnya.

Dalam menggambarkan figur, Srihadi menunjukkan hubungan antara diri sendiri dengan yang ilahi, atau hubungan antara manusia. Pada karya-karya dengan figur tunggal, beliau menonjolkan postur dan konsentrasi statis. Contohnya pada karya dengan judul "Salt Seller", terlihat seorang pria menggunakan sarung sedang berdiri dengan kedua tangannya menopang tampah atau nampan besar.

Figur ini digambarkan dengan warna coklat dari atas hingga bawah. Beliau menyoroti figur ini dengan dua hal. Pertama, melalui latar belakang yang gelap, dengan bagian atas berwarna abu-abu dan bagian sisanya diisi dengan warna hitam. Kedua, hanya bagian figur yang diberi sorotan dengan gradasi coklat muda dan tua, terlihat pada tangan, sarung, dan kaki. Hal ini membuat figur menonjol dari latar belakang di sekitarnya. Sapuan cat tipis yang khas terlihat dalam menggambarkan nampan dan detail seperti mata, tangan, dan batas sarung menggunakan warna putih.

Karya yang dibuat pada tahun 1965 merupakan bagian dari seri sosial, yang diilhami oleh kondisi di Indonesia setelah beliau pulang dari Amerika. Dalam seri sosial ini, beliau mengungkapkan perasaannya melalui warna dan goresan yang tipis namun kuat. Karya-karya beliau pada tahun 60-an termasuk karya awal yang jarang ditemukan, dan dapat ditemukan dalam buku Srihadi Soedarsono "The Path of Soul".

Karya selanjutnya yang selalu memikat perhatian adalah seri penari. Srihadi selalu mampu menghadirkan keagungan dan energi tari Bedoyo atau Bedhaya secara sempurna. Seperti pada karya "The Serenity of Bedhoyo" yang dibuat pada tahun 2005, dua penari menari ke arah kanan di tengah-tengah warna biru. Kecantikan dan keanggunan penari tersebut ditampilkan secara menyeluruh mulai dari kepala dengan mahkota emas dan sanggul. Wajah penari yang cantik digambarkan dengan bibir merah, alis tebal, dan bulu mata panjang. Di sisi penari terlihat roncean melati yang terjuntai dari kepala sampai dada dengan warna putih dan tekstur tebal.

Pada bagian dada dan pinggang, terdapat perhiasan dengan warna emas. Keanggunan dan energi penari tertangkap melalui sapuan goresan yang spontan. Karya ini didominasi oleh warna biru yang mengarahkan gerakan yang terbentuk melalui sapuan kuas yang lembut, dengan tumpukan warna di sekitar penari. Semakin menjauh dari penari, gradasi warna biru menjadi tua dan muda. Fokus pada gerakan juga ditonjolkan melalui penggambaran tangan dan jari penari.

Karya berikutnya adalah karya dengan tema Borobudur. Borobudur adalah salah satu monumen religius yang terkenal di seluruh dunia. Srihadi menggambarkan objek ini dalam berbagai momen, seperti dalam karya "Borobudur Keheningan Pagi". Terlihat siluet Borobudur dengan warna hitam dan stupa di tengah dengan bordir warna putih. Di atasnya, terlihat matahari putih dengan langit biru dan ladang hijau.

Horizon dengan warna kuning digambarkan melalui garis horizontal paralel dengan Borobudur. Goresan ladang sesuai dengan filosofi Srihadi dalam menggambarkan lanskap, di mana hubungan antara manusia dan alam harus saling berjalan.

Dalam menggambarkan Borobudur, Srihadi mengatakan, “Dalam lukisan-lukisan bertema Borobudur, saya mencoba mengungkapkan hubungan manusia dengan Tuhan secara simbolis. Saya melakukannya dengan berkonsentrasi pada beberapa aspek dari benda simbolis yang ingin saya wujudkan. Peran warna menjadi pokok dalam proses ini. Warna digunakan untuk kualitas warna itu sendiri, tanpa memiliki makna simbolis etnis apa pun. Namun, warna memiliki energi sendiri yang menjadi cara seniman untuk mengungkapkan kebebasan kreatifnya.”

Hi, There!

Welcome to GLOBAL AUCTION. How can we help you today?